GORONTALO [Shertanews.com] –Dunia pers di Gorontalo Utara diguncang insiden yang mengguncang nurani. Ketua DPC AKPERSI Gorontalo Utara, Iron Tangahu, diduga menjadi korban penganiayaan brutal oleh oknum aparat saat menjalankan tugas jurnalistik di lokasi pertambangan, Senin (27/04/2026).
Peristiwa mencekam itu terjadi di tengah aktivitas tambang. Iron yang datang untuk melakukan peliputan awalnya berinteraksi seperti biasa. Namun situasi berubah drastis saat ia memperkenalkan diri sebagai jurnalis.
“Saya bilang saya dari media… langsung di pukul (bage),” ungkap Iron, menggambarkan detik-detik sebelum dugaan kekerasan terjadi. Tanpa peringatan jelas, suasana berubah menjadi chaos.

Dugaan pemukulan oleh oknum aparat pun tak terhindarkan. Hingga kini, identitas pelaku dan motif di balik tindakan tersebut masih belum terungkap, menyisakan tanda tanya besar.
Gelombang kecaman pun langsung bermunculan. AKPERSI se-Gorontalo secara tegas mengecam keras dugaan tindakan premanisme yang dilakukan oleh oknum aparat terhadap jurnalis.
Dalam pernyataannya, AKPERSI menilai tindakan tersebut sebagai bentuk intimidasi nyata dan pelanggaran serius terhadap kebebasan pers. Mereka menegaskan bahwa praktik kekerasan, terlebih yang menyerupai aksi premanisme oleh aparat, tidak bisa ditoleransi dalam negara hukum.
“Ini bukan hanya soal kekerasan terhadap individu, tapi serangan terhadap profesi jurnalis dan kebebasan pers, Kami mengecam keras tindakan premanisme yang diduga dilakukan oleh oknum aparat,” tegas pernyataan sikap AKPERSI.
Desakan agar kasus ini diusut tuntas pun menguat. Ketua DPD AKPERSI Gorontalo Imran Uno menegaskan agara aparat penegak hukum di wilayah itu agar bertindak cepat, transparan, dan profesional dalam mengungkap pelaku serta motif di balik kejadian tersebut, hingga mengecam akan menggeruduk Polda Gorontalo jika kasus ini tidak ada penyelesaian.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian. Sementara kondisi terbaru Iron Tangahu juga belum disampaikan secara rinci, memicu kekhawatiran di kalangan jurnalis dan masyarakat, khususnya organisasi AKPERSI GORONTALO.
Peristiwa ini menjadi alarm keras: ketika jurnalis diserang saat menjalankan tugasnya, maka yang terancam bukan hanya keselamatan individ tetapi juga kebebasan informasi dan demokrasi itu sendiri. (Adv)
Laporan : Serta













