GORONTALO [Shertanews.com]-Polemik mengenai sejarah penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo mulai mengemuka. Ketua KTNA Provinsi Gorontalo, Arjun Mogulaingo, menyampaikan kritik terhadap konferensi pers yang digelar oleh Gubernur Gorontalo di rumah jabatan usai pelaksanaan PENAS (29/6).
Dalam video yang diunggah media Coolturnesia.com, Arjun menegaskan bahwa apa yang disampaikan Gubernur bukan salah, tetapi keliru, karena konferensi pers tersebut tidak menghadirkan pihak-pihak yang mengetahui secara langsung sejarah dan proses panjang perjuangan Gorontalo hingga akhirnya dipercaya menjadi tuan rumah PENAS KTNA XVII.
Menurut Arjun, keberhasilan PENAS tidak boleh hanya dipandang dari sisi pelaksanaan kegiatan atau kemeriahan acara. Lebih dari itu, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika Gorontalo mampu menjadi pusat perhatian nasional dengan menghadirkan Presiden Republik Indonesia, Wakil Presiden, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, serta para gubernur dari berbagai provinsi dalam satu agenda nasional.

“Ukuran sukses bukan hanya seremonial. Ketika RI-1 (Presiden), Wakil Presiden, para menteri, dan gubernur hadir di Gorontalo, itulah bukti bahwa PENAS telah membawa daerah ini menjadi perhatian nasional,” demikian inti pernyataan Arjun dalam video tersebut.
Arjun juga menilai sejarah perjuangan menghadirkan PENAS ke Gorontalo merupakan proses panjang yang melibatkan banyak tahapan dan banyak pihak.
Karena itu, menurutnya, narasi kepada publik seharusnya menghadirkan orang-orang yang mengetahui proses tersebut sejak awal, agar informasi yang disampaikan menjadi utuh dan tidak menimbulkan persepsi yang berbeda.

Di sisi lain, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dalam konferensi persnya (27/6), juga menegaskan bahwa penyelenggaraan PENAS KTNA XVII merupakan hasil proses panjang yang melibatkan banyak pihak lintas periode pemerintahan.
Menurut Gusnar, setiap tahapan memiliki kontribusi masing-masing, mulai dari proses pengusulan, verifikasi, penetapan Gorontalo sebagai tuan rumah, hingga pelaksanaan kegiatan yang berlangsung sukses.
Karena itu, keberhasilan PENAS merupakan hasil kerja bersama yang tidak bisa dilekatkan hanya kepada satu individu atau satu periode kepemimpinan, dan menunjukkan bahwa pemerintah provinsi memandang PENAS sebagai buah kolaborasi yang dibangun secara berkesinambungan dari waktu ke waktu.
Meski demikian, pandangan Arjun menegaskan pentingnya menjaga utuhnya sejarah perjuangan. Baginya, menghargai keberhasilan bukan hanya tentang siapa yang berdiri di panggung ketika acara berlangsung, tetapi juga tentang mengakui mereka yang telah bekerja di balik layar sejak awal proses hingga Gorontalo resmi ditetapkan sebagai tuan rumah.
Perbedaan pandangan ini pun memunculkan diskusi di ruang publik mengenai perjalanan PENAS XVII. Di satu sisi, pemerintah menekankan semangat kolaborasi lintas periode. Di sisi lain, Ketua KTNA Provinsi mengingatkan agar sejarah perjuangan tidak kehilangan bagian-bagian pentingnya.
Karena pada akhirnya, panggung seremonial akan selesai, tetapi sejarah akan terus hidup. Dan sejarah yang baik adalah sejarah yang mencatat setiap perjuangan secara utuh, menghargai setiap kontribusi, serta memberi tempat kepada semua pihak yang menjadi bagian dari lahirnya sebuah keberhasilan. (Adv)
Laporan : Serta













