GORONTALO [Shertanews.com]-Di tengah dinamika politik yang beberapa hari terakhir menyita perhatian publik, Ketua DPRD Kabupaten Boalemo Eka Putra Noho memilih menyampaikan pesan persatuan saat kembali memimpin Rapat Paripurna pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027, Selasa (21/7/2026).
Sebelumnya, Eka Putra Noho menjadi sorotan setelah lima fraksi di DPRD Boalemo menyampaikan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinannya. Bahkan, sempat muncul wacana walk out apabila rapat dipimpin olehnya.
Namun, suasana yang semula dipenuhi ketegangan perlahan berubah ketika Wakil Ketua DPRD Husain Etango menyerahkan palu sidang kepada Eka Putra Noho.

Di hadapan Bupati Boalemo Rum Pagau, Sekretaris Daerah, unsur Forkopimda, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Eka tidak memilih membalas polemik yang berkembang.
Sebaliknya, ia mengawali kepemimpinannya dengan sebuah pidato yang sarat ajakan untuk berdamai dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
“Seberat apa pun itu, sepahit apa pun itu, hari ini saya lupakan. Kita boleh berbeda partai politik, tetapi jangan pernah melupakan bahwa ada rakyat Boalemo yang harus kita perjuangkan bersama,” ujar Eka.
Pernyataan itu menjadi penanda bahwa dirinya memilih menutup lembaran konflik dan mengajak seluruh anggota DPRD kembali fokus pada agenda utama, yakni pembahasan APBD 2027 yang sangat dinantikan masyarakat.
Dalam pidatonya, Eka bahkan menyatakan kesiapannya menerima seluruh kritik dan konsekuensi sebagai pimpinan DPRD, selama masyarakat tidak menjadi korban dari konflik politik yang terjadi.
“Lemparkan semua kesalahan itu kepada saya. Biarkan saya yang sakit, tetapi jangan sakiti rakyat Kabupaten Boalemo,” tegasnya.

Ucapan tersebut seketika membuat suasana ruang sidang hening. Pesan itu dipandang sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus ajakan agar seluruh pihak menghentikan perdebatan yang berpotensi menghambat jalannya pemerintahan.
Menurut Eka, masyarakat tidak sedang menunggu siapa yang menang atau kalah dalam dinamika politik. Yang diharapkan rakyat adalah kepastian pembahasan APBD agar pembangunan, pelayanan publik, dan berbagai program pemerintah dapat berjalan sesuai rencana.
“Ketika kalian menyatakan mosi tidak percaya, apakah saya marah? Tidak. Hari ini yang ditunggu rakyat adalah kepastian APBD kita,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Bupati dan DPRD sama-sama memperoleh mandat dari rakyat melalui proses demokrasi. Karena itu, hubungan antara eksekutif dan legislatif harus dibangun atas dasar saling menghormati dan saling menguatkan demi kemajuan daerah.
Menjelang akhir pidatonya, Eka Putra Noho menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh anggota DPRD dan masyarakat Boalemo apabila selama memimpin masih terdapat kekurangan. Ia menegaskan komitmennya untuk terus membangun komunikasi bersama seluruh unsur pimpinan DPRD secara kolektif-kolegial.
“Rakyat Boalemo menginginkan kita kompak. Mereka ingin melihat Bupati dan DPRD tetap berjalan seiring. Mari kita hentikan perbedaan yang tidak produktif dan bersama-sama bekerja demi Boalemo yang lebih baik,” pungkasnya.
Usai pidato tersebut, Rapat Paripurna KUA-PPAS Tahun Anggaran 2027 dilanjutkan sesuai agenda. Meski sebelumnya diwarnai dinamika politik, seluruh rangkaian sidang berlangsung dengan tertib hingga selesai.
Bagi banyak pihak, pidato Eka Putra Noho bukan sekadar pembukaan rapat, tetapi juga menjadi pesan bahwa di tengah perbedaan politik, kepentingan rakyat harus tetap menjadi tujuan utama seluruh penyelenggara pemerintahan. (Adv)
Laporan : Serta













