GORONTALO [Shertanews.com]-Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada Triwulan I tahun 2026 mencatat capaian impresif sebesar 7,68 persen secara year-on-year (YoY). Angka tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan laju pertumbuhan yang cukup tinggi dibanding sejumlah daerah lainnya di kawasan timur Indonesia.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, terdapat fakta menarik mengenai sektor-sektor yang paling berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi daerah.
Ditemui pada rabu (13/5), Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo Agus Sudibyo, M.Stat menjelaskan bahwa penghitungan pertumbuhan ekonomi dilakukan menggunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan agar dapat menggambarkan pertumbuhan riil tanpa dipengaruhi kenaikan harga.

“Kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi, kita menghilangkan faktor harga. Kita hanya melihat kuantitas atau volume produksi. Tahun dasarnya kita kembalikan ke tahun 2010,” ujar Agus.
Berdasarkan data BPS, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penopang utama ekonomi Gorontalo dengan kontribusi terbesar mencapai 36,46 persen terhadap struktur ekonomi daerah.
Komoditas jagung, perikanan, dan hasil perkebunan disebut masih menjadi motor penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain itu, besarnya kontribusi sektor pertanian membuat setiap peningkatan produksi memiliki dampak besar terhadap total pertumbuhan ekonomi provinsi.
Sementara untuk sektor Pertambangan dan Penggalian tercatat menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 31,34 persen. Disusul Industri Pengolahan yang tumbuh sebesar 29,34 persen.
Pada sektor Transportasi dan Pergudangan juga menunjukkan tren pertumbuhan positif seiring meningkatnya aktivitas distribusi barang dan mobilitas ekonomi.
Meski tumbuh sangat tinggi, Agus menegaskan bahwa kontribusi sektor pertambangan terhadap struktur ekonomi Gorontalo masih relatif kecil.

“Share sektor pertambangan baru sekitar 1,84 persen. Jadi meskipun pertumbuhannya tinggi, pengaruhnya terhadap keseluruhan ekonomi daerah belum sebesar sektor pertanian,” jelasnya.
Secara nilai, PDRB Gorontalo atas dasar harga konstan juga mengalami peningkatan dari sekitar Rp 8 triliun pada Triwulan I-2025 menjadi sekitar Rp 9 triliun pada periode yang sama tahun 2026.
BPS juga menyebut setiap kabupaten dan kota di Gorontalo memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda-beda, termasuk Kabupaten Boalemo yang memiliki basis sektor pertanian dan potensi sumber daya alam cukup besar.
Karena itu, struktur pertumbuhan antarwilayah tidak dapat disamakan, sebab masing-masing daerah memiliki sektor prioritas dan kekuatan ekonomi tersendiri.
Dengan capaian pertumbuhan 7,68 persen tersebut, Gorontalo dinilai sedang berada dalam fase penguatan ekonomi daerah, di mana sektor pertanian masih menjadi pondasi utama, sementara sektor pertambangan dan industri mulai tumbuh agresif sebagai sumber pertumbuhan baru. (Adv)
Laporan : Serta













