GORONTALO [Shertanews.com]-Gelombang perlawanan terhadap dugaan ketidakadilan di sektor pertambangan kembali menguat di Kabupaten Pohuwato. Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) Provinsi Gorontalo memastikan akan kembali turun ke jalan dalam Aksi Jilid II yang dijadwalkan berlangsung pada Senin hingga Rabu mendatang.
Aksi tersebut bukan sekadar unjuk rasa biasa. Diwarnai orasi dan simbol perlawanan, AKPERSI membawa tuntutan keras yang secara langsung menyasar korporasi tambang, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum.
Dalam pernyataan sikap, AKPERSI secara tegas mendesak PT PETS untuk segera ditutup sementara, hingga dilakukannya audit AMDAL secara terbuka, independen, dan transparan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Gorontalo. Mereka menilai transparansi lingkungan adalah harga mati demi keselamatan rakyat dan keberlanjutan alam Pohuwato.

Ketua DPD AKPERSI Gorontalo, Imran Uno, S.Pd.I, C.ILJ, menegaskan bahwa perjuangan ini lahir dari kegelisahan masyarakat yang selama ini merasa terzolimi. “Transparansi lingkungan bukan pilihan, tapi keharusan. Ini menyangkut keselamatan rakyat dan masa depan Pohuwato,” tegas Imran.
Tak berhenti pada korporasi, AKPERSI juga menyoroti sikap pemerintah daerah khususnya Bupati Pohuwato. Mantan aktivis berdarah Pohuwato itu secara terbuka menantang keberpihakan kepala daerah agar berdiri di barisan rakyat penambang, bukan justru dinilai melindungi kepentingan korporasi besar yang diduga merugikan masyarakat kecil.
Sorotan tajam turut diarahkan kepada DPRD Kabupaten Pohuwato. AKPERSI mendesak lembaga legislatif untuk melakukan audit total terhadap seluruh perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut. Menurut mereka, sudah saatnya wakil rakyat membuktikan fungsi pengawasan, bukan sekadar menjadi penonton di tengah konflik lingkungan yang terus berulang.
Di sisi penegakan hukum, massa aksi yang akan dipimpin oleh Imran Uno juga menuntut Kapolres Pohuwato agar menegakkan hukum secara adil dan tanpa tebang pilih, termasuk terhadap perusahaan besar seperti PT Pani Gold Project (PT PETS).
Nama Boyke Tohir pun ikut menjadi sorotan, AKPERSI menegaskan bahwa selama yang bersangkutan tidak turun langsung menemui dan berdialog dengan masyarakat penambang, aksi demonstrasi akan terus digelar secara berjilid-jilid.
“Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, namun ini adalah jeritan rakyat yang menuntut keadilan di tanah kelahirannya sendiri” tegas Imran saat di wawancarai oleh awak media Shertanews.
Tak hanya itu, Ketua Akpersi Gorontalo Imran Uno memastikan Aksi Jilid II adalah peringatan keras dengan menghadirkan ribuan masyarakat penambang lokal dan jika seluruh tuntutan tak digubris, gelombang perlawanan dipastikan akan semakin besar, dengan satu pesan tegas: Hukum, Lingkungan, dan Keadilan tidak boleh tunduk pada kekuatan modal. (Adv)
Laporan : Serta













