GORONTALO [Shertanews.com]-Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Pohuwato yang seharusnya menjadi ruang adu data dan kepentingan, justru menghadirkan sebuah momen yang mengguncang logika lama. Di tengah kerasnya perdebatan soal kerusakan lingkungan akibat pertambangan, seorang penambang berdiri di sisi yang tak terduga: barisan petani.
Ia adalah Yosar Ruiba, bukan aktivis lingkungan, bukan pula akademisi. Ia datang sebagai “orang dalam” dunia pertambangan—sektor yang selama ini kerap diposisikan sebagai sumber masalah. Namun, Yosar memilih berbicara dengan nurani, bukan pembelaan.
Lumpur Tambang dan Luka Petani
Sedimentasi dan endapan lumpur bukan sekadar istilah teknis dalam dokumen lingkungan. Bagi petani, itu adalah sawah yang gagal panen, tanah yang kehilangan kesuburan, dan masa depan keluarga yang terancam. Konflik antara penambang dan petani pun telah lama membatu, dipenuhi saling tuding dan rasa tidak percaya.
Di ruang RDP itu, Yosar mematahkan pola lama. Ia tidak menutup mata, tidak pula mencari kambing hitam. Ia justru mengakui bahwa ada harga yang terlalu mahal yang harus dibayar petani akibat aktivitas ekonomi yang tak terkendali.
“Ini bukan semata persoalan teknis. Ini soal keberlangsungan hidup petani dan ketahanan pangan kita,” ucapnya. Kalimat sederhana yang menyentuh inti persoalan, kritik Pedas dari Dalam Sistem Keberanian Yosar lebih dari sekadar empati. Ia adalah kritik pedas dari dalam sistem yang selama ini terbiasa diam atau defensif.
Melalui aksi nyata, ia menggalang sesama penambang untuk bergotong royong menekan dampak lumpur tambang—sebuah langkah yang jarang terdengar di tengah praktik pertambangan yang kerap mengabaikan suara warga.
Gerakan ini membawa pesan tegas:
Tanggung jawab moral tidak bisa ditambang dan ditinggalkan.
Dialog lebih bermartabat daripada konflik berkepanjangan.
Keuntungan ekonomi tak boleh tumbuh dari penderitaan petani.
Langkah Yosar membuka ruang dialog yang selama ini terkunci, membuktikan bahwa komunikasi lintas sektor bukan utopia, melainkan pilihan.
Anomali yang Menampar Kesadaran
Namun publik juga perlu jujur: Yosar Ruiba bukan cermin seluruh wajah pertambangan Pohuwato. Ia adalah anomali—sebuah pengecualian yang justru menampar kesadaran kolektif. Keberpihakannya menjadi “kompas moral” yang mempertanyakan: mengapa sikap seperti ini masih terasa langka?
Kerusakan lingkungan belum pulih. Sawah yang tertimbun lumpur belum sepenuhnya kembali subur. Perjuangan ini masih jauh dari kata selesai. Tetapi langkah kecil yang lahir dari keberanian mengakui kesalahan adalah fondasi perubahan yang sesungguhnya.
Ketika Ekonomi Bertemu Kemanusiaan
Apa yang dilakukan Yosar Ruiba mengingatkan kita bahwa pertambangan tidak harus selalu berseberangan dengan kemanusiaan. Bahwa ekonomi dan ekologi tidak ditakdirkan saling menghancurkan.
Di tengah kebisingan kepentingan, suara seperti Yosar terdengar pelan—namun menggema. Ia membuktikan bahwa keberpihakan pada petani dan lingkungan tidak membutuhkan panggung besar, hanya keberanian untuk memilih nurani. (Adv)
Laporan : Serta













