GORONTALO [Shertanews.com]-Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Boalemo masih menjaga tiga pusaka bersejarah yang diyakini menjadi saksi lahirnya pemerintahan Kerajaan Boalemo, Kamis (16/7).
Ketiga pusaka tersebut, yakni Batang Raja, Buku Kerajaan Boalemo, dan Peta Boalemo, bukan sekadar benda peninggalan masa lalu, melainkan simbol identitas, legitimasi kekuasaan, serta kedaulatan kerajaan yang diwariskan lintas generasi.
Hingga kini, warisan budaya tersebut tetap dihormati melalui tradisi adat yang terus dilestarikan. Setiap malam 28 Muharram, masyarakat secara rutin menggelar Do’a Lo Lipu dan doa khusus untuk Batang Raja, sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur sekaligus memohon keselamatan bagi daerah.

Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini menjadi bukti kuat bahwa nilai-nilai adat masih hidup di tengah masyarakat Boalemo.
Dalam tuturan adat, Batang Raja, Buku Kerajaan, dan Peta Boalemo memiliki keterkaitan erat dengan hubungan politik antara Kerajaan Boalemo dan Kesultanan Ternate pada masa lampau. Ketiga pusaka tersebut dipercaya diserahkan sebagai tanda pengakuan atas berdirinya pemerintahan Raja Palowa yang kemudian memimpin Kerajaan Boalemo.

Di antara ketiga pusaka itu, Batang Raja merupakan simbol yang paling dikenal masyarakat. Tongkat kebesaran tersebut diyakini bukan hanya perlengkapan kerajaan, tetapi lambang amanah untuk menegakkan keadilan, menjaga persatuan rakyat, serta mempertahankan martabat kerajaan. Dalam setiap prosesi adat, Batang Raja selalu ditempatkan pada posisi terhormat sebagai simbol kewibawaan seorang pemimpin.

Sementara itu, Buku Kerajaan Boalemo dipercaya memuat catatan penting mengenai silsilah raja-raja, sistem pemerintahan, batas wilayah, hingga hubungan diplomatik dengan Kesultanan Ternate.
Walaupun keberadaan naskah aslinya masih memerlukan kajian ilmiah yang lebih mendalam, masyarakat tetap meyakini buku tersebut sebagai pedoman pemerintahan pada masa kerajaan.

Adapun Peta Boalemo diyakini menggambarkan batas wilayah kerajaan, kawasan pesisir Teluk Tomini, pegunungan, aliran sungai, hingga daerah-daerah yang berada dalam kekuasaan Raja Boalemo. Bagi masyarakat adat, peta tersebut menjadi simbol pengakuan terhadap wilayah dan eksistensi pemerintahan Kerajaan Boalemo.
Sejarah juga mencatat bahwa pada abad ke-16 hingga ke-18, Boalemo berada dalam jaringan perdagangan dan diplomasi Kesultanan Ternate. Hubungan tersebut membentuk kerja sama politik tanpa menghilangkan identitas Kerajaan Boalemo yang tetap menjalankan pemerintahan berdasarkan adat dan kearifan lokal.
Dalam tradisi lisan, penyerahan tiga pusaka tersebut sering dikaitkan dengan Sultan Nuruddin dari Kesultanan Ternate. Namun demikian, para sejarawan menilai informasi tersebut masih memerlukan pembuktian melalui penelitian terhadap arsip Kesultanan Ternate, naskah kuno, maupun dokumen kolonial agar rekonstruksi sejarah dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Terlepas dari berbagai kajian yang masih terus berkembang, nilai sejarah Batang Raja, Buku Kerajaan Boalemo, dan Peta Boalemo tidak pernah pudar. Ketiganya telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat sebagai simbol lahirnya pemerintahan, persatuan rakyat, serta pengakuan atas eksistensi Kerajaan Boalemo di masa silam.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pelestarian budaya daerah, keberadaan tiga pusaka tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya penelitian sejarah yang lebih komprehensif.
Dengan dukungan kajian akademik, penguatan arsip, dan pelestarian tradisi adat, sejarah Kerajaan Boalemo diharapkan dapat dipahami secara lebih utuh sebagai bagian penting dari khazanah sejarah Gorontalo dan Indonesia. (Adv)
Catatan : Penulis memperoleh sumber informasi dari para tokoh di Kabupaten Boalemo, yang mengetahui jelas terkait benda pusaka tersebut.
Laporan : Serta

















